Vivamus non augue mauris amet
December 10, 2015
Curug Awang – Niagara Mini dari Ciletuh Geopark
January 10, 2016
TOPONIMI SEBAGAI WARISAN NON-GEOLOGI

Toponimi adalah bahasan ilmiah tentang nama tempat, asal-usul arti, dan tipologiya (Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Toponimi). Kata itu berasal dari bahasa Yunani, tópos, yang berarti tempat, dan ónoma, yang berarti nama. Secara harfiah, toponimi berarti juga nama tempat. Sumber yang sama selanjutnya menyatakan bahwa suatu toponimi adalah nama dari tempat, wilayah, atau suatu bagian lain dari permukaan bumi, termasuk yang bersifat alami (seperti sungai) dan yang buatan (seperti kota). Disebutkan pula bahwa dalam etnologi, suatu toponimi adalah sebuah nama yang diturunkan dari suatu tempat atau wilayah. Dalam anatomi, toponimi adalah nama bagian tubuh, yang dibedakan dengan nama organ tubuh. Dalam biologi, suatu toponimi adalah nama binomial dari suatu tumbuh.

Menurut sebuah sumber di bidang pemetaan atau informasi geospasial, toponimi  atau nama tempat adalah nama yang diberikan kepada unsur rupabumi  yang tidak hanya berupa tulisan di peta atau papan nama petunjuk jalan atau lokasi suatu tempat, melainkan juga berupa informasi geospasial yang berfungsi sebagai titik akses langsung dan intuitif terhadap sebuah sumber informasi lainnya. Kajian toponimi sangat erat kaitannya dengan bidang ilmu lain terutama pemetaan, kartografi, antrologi, geografi, sejarah dan kebudayaan.

Berkenaan dengan wilayah Ciletuh atau – secara umum – Sukabumi Selatan (pakidulan Sukabumi), atau lebih luas lagi di iwilayah Tatar Sunda pada umumnya, dikenal istilah asal-usul atau sasakala penamaan sebuah tempat atau wilayah. Sasakala ini tiada lain, maksudnya sama dengan toponimi. Dengan demikian, toponimi merupakan bagian dari tradisi, bahkan tradisi yang baik, karena melalui toponimi kita dapat memperoleh informasi awal tentang keadaan alam, baik hayati maupun non-hayati di suatu daerah; dan mengkap pesan untuk mengkonservasi alam tersebut.

Di kawasan Ciletuh dan sekitarnya, terdapat beberapa nama tempat yang menarik untuk dijeskan keterkaitannya dengan keadaan alam setempat. Nama-nama itu telah menjadi pembuka jendela awal akan pemahaman hubungan alam dan budaya masyarakat. Beberapa diantara toponimi itu adalah: Ciletuh (nama kawasan/daerah), Awang (nama air terjun atau curug), Puncakmanik (nama curug), Palangpang (nama tempat, pantai), Pabeasan (nama gunung), Aseupan (nama bukit atau gunung kecil), Cibanteng (nama kawasan), Cikepuh (nama kawasan), Citirem (nama pantai), Sodong (nama pantai), Ombak Tujuh (nama pantai), Pangumbahan (nama pantai), Ujunggenteng (nama pantai), dan lainnya.

Ciletuh, menurut bahasa berarti air yang keruh (ci atau cai = air; letuh = keruh). Nama kawasan yang kini menjadi kawasan usulan geopark pertama di Jawa Barat ini, mengindikasikan keadaan alam di Ciletuh, khusunya tanahnya dan tata air. Tanah yang mudah tererosi, terutama di saat hujan turun, menyebabkan air limpasan di sungai-sungai keruh. Boleh jadi, nama ini juga mengindikasikan adanya aktivitas penambangan di kawasan hulu yang menyebabkan air sungai di hilirnya menjadi keruh. Mungkinkah awal pemunculan nama “Ciletuh” dapat berkorelasi dengan awal penambangan di kawasan tersebut? Menarik untuk diteliti lebih lanjut. Sebab, berdasarkan catatan sejarah yang ada, kawasan yang kini bernama “Ciletuh” itu dahulunya termasuk ke dalam kawasan Jampang. Sebagai contoh, nama “Jampang” digunakan dalam nama formasi geologi, Formasi Jampang, dan Tinggian Jampang (Jampang Plateau). Demikian pula, dalam Carita Parahiyangan, nama “Jampang: telah disebut-sebut.

Nama “awang” dapat dilacak ke nama posisi yang tinggi (awang-awang = ketinggian yang sangat). Berkenaan dengan nama tersebut sebagai nama air terjun, nama awang di sini menunjukkan tingginya air terjun tersebut yang seakan-akan airnya jatuh dari ketinggian yang sangat. Senada dengan itu, nama “puncakmanik” yang terdiri atas dua kata, puncak (tempat paling tinggi), dan manik (bisa berarti nama batu mulia yang menjadi inti dari perhiasan kalung atau gelang dan sejenisnya; atau nama belakang seorang penjelajah dan penulis sejarah tempat berdasarkan hasil kunjungan ke tempat tersebut di Tatar Sunda: Bujangga Manik). Nama ini yang menjadi nama curug (Curug Puncakmanik) jadinya mengindikasikan dua hal. Pertama, air terjun (curug) tersebut sangat tinggi. Kedua, ada mineral-mineral yang termasuk batumulia dalam batuan penyusun kawasan tersebut; atau, kawasan tersebut mungkin saja pernah dikunjungi oleh Bujanggamanik dala penjelajahan ilmihanya.

Nama “palangpang” menurut masyarakat setempat berasal dari palang-palang (kayu atau bambu di dalam perahu atau antar perahu yang berfungsi sebagai penyeimbang atau tempat duduk atau jembatan) yang saling menumpang. Ini jelas berkaitan dengan budaya berperahu sebagai sarana mencari ikan atu pun transportasi. Nama “palangpang” dengan demikian, menyiratkan nama yang relative baru, lahir ketika perahu sudah mulai menjadi sarana bagi masyakarat setempat.   Ada pun nama “pabeasan” dalam “Pasir Pabeasan” (pasir = bukit, beas = beras, pabeasan = tempat beras), mengingatkan kepada warna beras yang putih agak keruh. Menurut geologi, Batuan yang menempati Pasir Pabeasan antara lain adalah peridotit dan serpentinit yang apabila tercuci, misal air hujan mengerosinya, dapat menghasilkan air cucian yang berwarna putih agak keruh, persis warna cucian beras (beas). Bukankah ini menunjukkan kearifan orang tua kita dahulu yang mengetahui bahwa warna putih susu di hilir atau di pantai, berasal dari bukit atau pasir Pabeasan karena di bukit tersebut terdapat batuan yang apabila tercuci air hujan menghasilkan air cucian yang berwarna putih keruh.

Nama “aseupan”, “ombak tujuh”, “pangumbahan” dan “ujunggenteng” menunjuk ke fenomena geografi juga geologi. Aseupan adalah alat memasak yang berbentuk kerucut, menujukkan bahwa Gunung Aseupan berbentuk kerucut atau piramida. Ini dari jauh memberikan perkiraan bahwa gunung kecil tersebut berumur yang relatif muda atau batuan penyusunnya bersifat keras dan tidak mudah tererosi. Di Pantai Ombak Tujuh dari namanya saja orang sudah bisa menebak, banyak ombak besar. Kata “tujuh” dalam tradisi bermakna banyak (bukan hanya tujuh dalam arti angka sesudah angka enam). Pangumbahan (kumbah = cuci, pangumbahan = tempat mencuci) faktanya adalah pantai dengan ombak yang putih bersih. Pantai ini juga berpasir-pantai yang putih bersih. Jadi, beralasan jika orang tua setempat dulu menamai pantai tersebut sebagai tempat untuk mencuci atau pencucian (pangumbahan). Sedangkan salah satu makna kata “genteng” dalam bahasa setemoat (Bahasa Sunda), sama dengan arti kata “genting” dalam bahasa Indonesia, yaitu “celah”. Penamaan ini sangat tepat, karena tempat yang bernama “Ujunggenteng” tersebut memang adalah wilayah yang memiliki tanjung (bersesuai dengan ujung = akhir, yang menjorok), yang memiliki celah berupa lekukan.

Ada pun nama “banteng”, “kepuh”, dan “tirem” kuat dugaan merupakan nama yang diturunkan dari nama flora dan fauna setempat. Orang tua atau leluhur masyarakat Ciletuh dahulu sudah biasa melihat banyak banteng berkeliaran di kawasan yang kini bernama “Cibanteng” tersebut. Kebradaan banteng di kawasan tersebut dibenarkan secara ilmiah. Ada pun “kepuh” adalah nama pohon tahunan atau tanaman keras yang banyak manfaatnya dan banyak terdapat di kawasan Cagar Alam Cibanteng. Nama ini sekarang menjadi nama suaka margasatwa di kawasan Geopark Ciletuh. Sedangkan nama “tirem” (“Citirem”, nama pantai) adalah sejenis binatang laut yang banyak terdapat di pantai tersebut dagingnya biasa dikonsumsi oleh nelayan tempat.

Dari uraian singkat toponimi dan beberapa contoh berikut penjelasannya, tampak bahwa kebiasaan memberikan nama tempat (toponimi) yang ada di kawasan Geopark Ciletuh, merupakan suatu tanda budaya, suatu segi dari kebudayaan yang perlu dikonservasi. Kemampuan memberikan nama yang secara bahasa enak didengar, dan secara keilmuan menjadi pintu untuk mengenal lebih jauah hakikat alam yang dinamai, merupakan sebuah kreativitas budaya. Dari toponimi berdasarkan nama flora dan fauna, misalnya, kita menjadi tahu, bahwa di lokasi tersebut dahulu, jika sekarang sudah tidak ada lagi, banyak dijumpai flora atau fauna tersebut. Di Cibanteng, misalnya, karena kini sudah tidak ada lagi, kita tahu bahwa dahulu banyak dijumpai banteng. Jelas sekali nilai penting dari toponimi, sehingga adat atau tradisi, yang merupakan bagian dari budaya, ini merupakan warisan budaya, dan perlu dikonservasi seraya dicari manfaatnya untuk kemajuan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Geopark berupaya untuk melakukan semua itu.

Pengkajian secara sepintas saja tentang toponimi memberikan gambaran bahwa toponimi merupakan bagian dari budaya atau kebudayaan. Toponimi bahkan menjadi ciri khas budaya suatu daerah, baik local maupun global. Terutama di Indonesia, toponimi banyak sekali diturunkan dari keadaan atau peristiwa alam, baik non hayati seperti gunung, sungai, dan lainnya; maupun dari alam hayati seperti dari nama tumbuhan (flora) dan hewan (fauna). Dengan demikian, dapat segera dipahami bahwa peristiwa atau keadaan alam, termasuk fenomena geologi, erat kaitannya dengan asal-asal nama suatu tempat atau toponimi.***

 

Sumber :

Oman Abdurahman , Tim Geopark Jawa Barat

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral – Badan Geologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *